Surau, Riwayatmu Dulu…

Dulu, surau di Minangkabau merupakan media pembentukan karakter anak nagari Minang. Di sana mereka belajar ilmu agama, dan adat Minangkabau. Di sana juga mereka belajar berorganisasi, dan berlatih silat.

Makanya, dulu setiap kaum memiliki surau. Surau dipimpin sosok yang disegani dalam kaum. Ia juga memiliki ilmu agama dan adat yang mumpuni, di samping juga seorang pesilat tangguh.

Keberadaan surau kala itu sangat strategis. Hal itu bisa dimaklumi, karena lembaga pendi­dikan formal kala itu amat langka. Kalaupun ada, sekolah tersebut hanya untuk mendidik anak para pejabat Belanda, dan antek-antek­nya. Anak rakyat jelata jangan harap bisa bersekolah di sekolah milik kolonial Belanda.

Di sisi lain, putra Minangkabau (mayoritas) kala itu enggan menjadi murid sekolah Belanda. Malah mereka merasa hina kalau berseko­lah di sekolah penjajah, yang mereka sebut “sekolah kafir.”

Kala itu fungsi surau amat komplet. Sebagai rumah tempat beribadah dan tempat anak remaja mendapat gemblengan fisik, mental, dan spiritual.

Dalam perkembangan zaman, secara bertahap fungsi surau mulai berkurang. Bahkan, surau sudah tidak banyak lagi ditemukan di Ranah Minang. Kalau dulu, setiap kaum punya surau, kini tak banyak lagi kaum yang masih memiliki surau.

Pergeseran nilai di tengah masyarakat Minang, konsekuensi kemajuan zaman, menyebabkan surau semakin lengang. Anak remaja sudah jarang tidur di surau seperti dulu. Penyebabnya, menurut berbagai sumber, karena anak remaja sudah disibukkan dengan tugas sekolah. Mereka pagi sampai siang belajar di sekolah masing-masing. Sepulang dari sekolah mengikuti mengikuti les berbagai bidang studi. Malamnya membuat PR.

Walau demikian, di Kabupaten Agam, masih ada surau, walau fungsinya sudah berkurang dari dahulu.

Kondisi demikian diakui Ketua LKAAM Agam, Drs Mardius As­maan Dt Saripado, Sekretaris LKAAM Agam, Juanidi Dt Gampo Alam Nan Hitam, dan beberapa wali nagari serta tokoh masyarakat.

Menurut Dt Saripado, fungsi surau, sebagai pembentuk karakter anak Minang masih terlihat. Aktivitas seperti didikan subuh, wirid remaja, dan sejenisnya masih terlihat. Namun memang tidak semua aktivitas itu berlangsung di surau, tetapi juga ada yang dilaksanakan di masjid.

Di Nagari Kampuang Pinang, Kecamatan Lubuk Basung, menurut Walinagari Yuharnel, masih ada surau kaum yang berfungsi sampai kini.

“Di sana anak remaja belajar ilmu agama. Namun sudah jarang ada kegiatan latihan silat, dan belajar adat di sana. Tetapi bukan berarti Anak Nagari Kampuang Pinang tidak belajar ilmu tentang adat. Mereka belajar ilmu dan masalah adat di tempat lain, seperti di rumah penduduk,” kata­nya.

Hal senada disampaikan salah seorang pemerhati kehidupan sosial budaya nagari, Anwar Advi.

Menurutnya, di nagari yang ada dalam Kecamatan Malalak masih banyak ditemukan surau milik kaum. Di sana, sebuah kaum akan merasa hina, bila tidak memiliki surau. Di surau itulah anak remaja belajar mengaji, dan mempelajari ilmu adat dan agama.

Di Kampuang Pinang, Keca­matan Lubuk Basung. Menurutnya masih terdapat surau kaum. Di antaranya surau milik kaum Pasu­kuan Sikumbang, Koto, dan Tan­juang. Namun sudah tidak ada remaja belajar silat di surau dimaksud.

“Surau masih eksis di tengah warga, hanya jumlahnya yang jauh berkurang,” ujarnya.

Di Nagari Baringin, Kecamatan Palembayan, menurut Wali Nagari Dt Nan Kodoh, surau masih ber­tahan. Tetapi sebatas untuk tempat beribadah, seperti salat berjamaah, wirid mingguan,dan belajar mengaji bagi anak remaja di malam hari.

Sama dengan informasi yang disampaikan Walinagari Kampuang Pinang, Dt Nan Kodoh mengatakan, anak remaja belajar silat di tempat tertentu, seperti di sasaran silat yang didirikan pencinta silat, atau di belakang dapur guru silat. Belajar adat dan pasambahan dilakukan di rumah penduduk, tidak lagi di surau.

Namun, menurut Wali Nagari Sitanang, Kecamatan Ampek Naga­ri, Yulisman Dt Majo Lelo, surau­ kaum memang sudah banyak yang hancur dan tidak dibangun lagi. Tetapi kini berdiri surau milik perorangan. Di nagari itu setidaknya terdapat 3 buah surau yang diba­ngun dengan biaya pribadi. Di samping itu aa juga surau milik kelompok masyarakat,s seperti di Dusun Kampuang Randah, Sim­pang Ampek, Padang Jua, Pematang Panjang, dan Padang Kalam.

“Namun surau hanya sebatas untuk beribadah, dan belajar mengaji bagi anak remaja. Belajar silat dan masalah adat tidak lagi dilaksanakan di surau,” ujarnya.

Di Nagari Batu Kambiang, Kecamatan Ampek Nagari, kebe­radaan surau masih bertahan. Di sana terdapat surau milik kelompok kampung, seperti terdapat di Jorong Balai Badak, Pasar Batu Kambiang, Subarang, Kampuang Ko­to, Kam­puang Pili, dan lainnya.

Menurut pemuka setempat, S. Dt. Bandaro Rajo, di surau anak remaja belajar mengaji, dan ber­ibadah bersama warga lainnya. Namun tidak da lagi latihan silat di surau, kala usai salat subuh berjamaah seperti dulu.

Apakah mungkin mengem­balikan fungsi surau seperti dahu­lu…? Sebuah pertanyaan yang sulit dijawab para tokoh masyarakat di Agam. pasalnya,kini zaman sudah berubah. Perubahan itu tidak bisa dilawan, seperti disampaikan Ketua LSM KOMA, Anizur St. Zainuddin.

Perubahan mendasar telah terjadi di tengah masyarakat. Dahulu tidak ada tempat bagi anak remaja untuk tidur di rumah, khususnya anak laki-laki. Di samping itu, adalah aib bagi seorang anak laki-laki tidur di rumah orang tuanya.  Kini, anak laki-laki sudah punya kamar sendiri di rumah orangtuanya. Karena ia memang sudah membutuhkannya. Pola dan sistem pendidikan menye­babkan seorang anak laki-laki memerlukan ruangan khusus agar ia bisa mengejakan PR dari sekolah dengan tenang.

Untuk mereka yang berminat belajar silat, kini sudah ada perguruan untuk itu,perguruan silat tersebut dibina tenaga terlatih dan terdidik. Untuk belajar adat dan pasambahan adat, juga sudah ada tenaga pendidik, walau tidak resmi. Mereka adalah para pencinta pasambahan itu sendiri. Untuk belajar berorganisasi,kini ada Pramuka di setiap sekolah.

“Makanya fungsi surau kini hanya untuk tmpat beribadah, dan belajar mengaji,” ujarnya.

Bahkan,kini sudah banyak orangtua yang mendatangkan guru mengaji untuk mendidik anak-anak mereka,ke rumah. Anak-anak cukup belajar mengaji di rumah, guru mengaji yang medatangi mereka.

Kondisi demikian memang ada ruginya, seperti disampaikan Dt. Nan Kodoh,dan Anwar Advil. Anak remaja kurang mengetahui adat dan budaya mereka. Mereka kurang terlatih berorganisasi. Dan tidak banyak anak yang berkesempatan belajar masalah adat,serta silat Minang.

Lantas, apakah surau, sebagai sebuah media yang pernah berjasa melahirkan para pemimpin, cen­dekiawan, dan orang besar di Agam akanpunah…? Dengan lantang Anizur mengatakan,hal itu tidak akan terjadi. Surau sudah meru­pakan jatidiri orang Minang. keberadaannya tidak akan pernah sirna,karena oang Minang memer­lukannya. Apa saja yang masih dibutuhkan masya­rakat, akan tetap lestari. Hanya fungsinya yang akan berkurang, atau bergeser.

“Kalau dulu untuk pembentukan karakter anak Minang, kini surau masih berfungsi seperti itu. Namun sudah ada fungsinya yang digan­tikan media lain. Dalam artisan, fungsi surau kini tidak sepadat dulu lagi,namun masih berperan dalam membentuk karakter anak Minang,” ujarnya.

Namun,untuk mengembalikan fungsi surau secara utuh, menurut Dt. Nan Kodoh masih memung­kinkan. Di Nagari Baringin, hal itu bisa saja dilakukan, asal semua pihak sepakat untuk itu. Hal yang sama disampaikan Yuharnel, Anwar Advil, dan Dt. Majolelo.

Alasan mereka, kondisi ma­syarakat nagari yang masih kompak, memungkinkan untuk me­ngem­balikan fungsi surau seperti dulu. Namun di tengah masyarakat perkotaan, memang agak sulit mewujudkan hal tersebut.

 

Laporan:
MIAZUDDIN

BACA JUGA :

Basko mediasi Walikota Bukittinggi dan Bupati Agam
Hari Ini Tersangka KPU Batam Disidang
Rumah Gadang Orang Padang
Wakil Bupati Natuna: Masyarakat Lestarikan Permainan Gasing

No related posts.